Selasa, 29 April 2014

Special For You

Sebuah kebingungan akan kado special dihari istimewa untukmu wahai suamiku.
Banyak hal yang tentunya kamu inginkan dalam hidupmu.
Banyak hal juga yang menjadi harapanku kepadamu dimasa yang akan datang.
Malam ini, usiamu akan bertambah tua dan pikiranmu akan semakin dewasa.
Segala harapan dan keinginan pasti memadati  kepalamu.
Tidak banyak yang aku tulis untukmu, tapi aku hanya ingin menyampaikan salam dari calon buah hati kita atas hari bahagia untuk ayahnya.
Dan dari istrimu ini aku ingin mengucapkan:




            "Selamat ulang tahun suamiku, semoga tercapai segala harapan dan cita-citamu"



hanya sebuah kalimat yang menjenuhkan tentunya bagi kamu.

Tetapi yakinlah kalau kalimat ini akan membawa kamu untuk mencapai cita dan harapanmu.

Semoga kamu tersenyum kecil ketika membaca ini.

Salam cinta dari istri dan calon bayimu..
Love you


 
 
29 April 2014,00:27

Rabu, 08 Januari 2014

Surat Untuk Seseorang


Sebuah ungkapan perasaan dimana hanya ada aku dan kamu. perasaan sesak sekali lagi aku rasakan ketika pencapaian suatu niat mulia semakin dekat. tidak tau awalnya, tapi mengapa untuk saat ini aku merasakan harus berhati-hati untuk berbicara dengan kamu. Berat rasanya untuk memulai bercerita atau hanya sekedar mengucapkan selamat pagi yang biasa aku bisikan. 
Semestinya ini tidak terjadi antara kita. Selayaknya pasangan yang akan menikah kita seharusnya mempersiapkan dengan suka cita tanpa ada salah paham yang berujung kemarahan. Apakah ini sudah jalannya? Atau ini hanya sebuah hadiah tahun baru terakhir kita sebagai seorang yang sama-sama melajang? Atau ini sebuah ujian dalam mencapai niat serius kita? Entah apalagi pertanyaan yang muncul dari benak ini. 
Semoga kita bisa mencintai kekurangan  yang ada diantara kita dan bisa menjadi pribadi yang saling menuntun setiap langkah menuju surga Tuhan diakhirat nanti.


BKT menjelang adzan magrib

Selasa, 19 November 2013

Infinite

entah setan apa yang melintasi kami berdua sehingga terjadi perdebatan yang sebenarnya tidak penting ini. Tuhan mungkin telalu sayang kepada kami sehingga cobaan selalu diberikan dalam keseriusan niat baik kami. Malam ini akan terasa panjang bagiku, dan mata ini akan semakin semabab seiring lelah dan banyaknya airmata yang telah keluar. bahkan sampai aku menulis ini, tetesannya membasahi notebook kesayanganku.

apa kamu juga merasakan apa yang aku rasakan?
atau kamu sudah terhanyut dalam mimpi indahmu?
apakah kamu mengkhawatirkan apabila terjadi sesuatu dengan aku?
apakah kamu akan menangis kalau aku bilang saat ini aku terluka dan meratapi hubungan kita?

masih sangat jelas kata-kata puisi yang kamu tulis di blog kita.
dan masi sngat jelas kata-kata balasan dari aku atas puisimu.
bisa dihitung detik hal yang sudah manis berubah menjadi pahit.

perenungan akan keseriusan niat menjaga dan dijaga.
mencintai dan dicintai.
dan saling melengkapi.

=lewat tengah malam=
di kesunyian Malam

Senin, 04 November 2013

Perjalanan Demi Masa Depan

Ini kali keduanya aku ke Bali dalam waktu yang hanya berjarak satu minggu dengan liburan ke Bali bersama keluarga. Perjalanan kali ini sangat berkesan karena menemani kak sahar mengikuti tes calon pegawai sipil di Universitas Udayana. Dengan berbagai informasi yang saya baca di beberapa forum backpaker, banyak bus-bus jurusan Jogja - Bali yang menjadi rekomendasi. Setelah membandingkan sendiri dengan mendatangi beberapa agen bus yang terkenal di jogja, akhirnya kami memilih menaiki bus Wisata Komodo (Wiskom) yang berlokasi di janti. Dengan alasan yang cukup sederhana memilih wiskom karena haraga yang di tawarkan lebih murah dengan fasilitas yang sama di bandingkan bus lainnya.

Berbagai perlengkapan tentu sudah saya siapkan dan tertata rapi di tas besar kesayangan kak sahar. Ini kali pertamanya aku menaiki bus bersama kak sahar dalam perjalanan yang lumayan jauh sekitar 10 jam. Keberangkatan berlokasi di salah satu agen wiskom di janti. Harga yang sangat murah dengan fasilitas yang disediakan, bus ini menjadi rekomendasi buat teman-teman yang ingin berangkat menggunakan bus ke daerah timur Indonesia. Interior bus yang modern dan baru tentu memberi kenyaman dalam perjalanan kami. Fasilitas yang ditawarkan wiskom seperti bantal dan selimut tebal, LCD yang full film serta musik dengan sound sistim yang bagus menemani perjalanan hingga tidak terasa kami sudah memasuki wilayah Surakarta. Beberapa kursi yang kosong akhirnya penuh oleh penumpang yang naik di terminal bus solo dan kernek bus membagikan snack yang terdiri dari roti dan minuman teh kemasan.
Selama 8 jam perjalanan darat dan akhirnya bus sampai di Ketapang, bus memasuki pelabuhan dan bersiap-siap menyeberang menuju Gilimanuk. Dari Ketapang kita bisa melihat kilau lampu dari pulau dewata.  Selama 2 jam lebih kami menaiki feri dan akhirnya tibalah kami di pulau yang terkenal dengan budayanya. Pemandangan yang tidak biasa yang pernah aku lihat beberapa hari yang lalu kini aku rasakan lagi. Pura di halaman rumah, janur, dan wangi dupa bukan hal yang aneh di Bali. selama hamper 3-4 jam tak terasa kami sudah sampai diterminal bus Ubung yang merupakan salah satu terminal terbesar di Bali. Turun dari bus kami langsung mengisi tenaga dengan makan nasi padang. Nasi padang kami anggap makanan yang aman ketika berada di Bali. *aman karena halal :D

Setelah mengisi tenanga, kami berencana meminjam sepeda motor sebagai kendaraan yang akan kami gunakan selama berada di Bali. Dengan diantar dua tukang ojek, kami menemukan tempat persewaan sepeda motor yang berada di sekitar jalan Imam Bonjol. Harga yang ditawarkan oleh sipemilik tidak begitu mahal yaitu 50 rb selama 24 jam. Harga akan berkurang apabila meminjam lebih lama serta dilengkapi dengan dua buah helm.
Setelah mendapatkan kendaraan, kami melanjutkan perjalanan ke bukit Jimbaran dimana lokasi tes diadakan. Kami berencana mencari penginapan murah yang dekat dengan lokasi tes agar mudah dan tidak terlibat kemacetan pada hari tes. Banyak penginapan yang terdapat sekitar kampus Udayanan. Harga permalam yang ditawarkan tergantung dengan fasilitas yang disediakan pemilik penginapan. Akhirnya setelah berkeliling-keliling kami mendapatkan sebuah penginapan yang murah dengan standar hotel bintang tiga. Harga yang di patok perkamar dengan fasilitas tv, air hangat, AC dan kulkas permalamnya adalah 150 ribu. Sangat beruntung sekali bisa menginap di sini, dan pelayanan dari yang punya juga ramah. Sayangnya saya lupa mengambil photo kamarnya sebagai gambaran dan perbandingan dengan penginapan lain.

Kami sengaja tiba di bali satu hari sebelum hari tes dengan maksud bisa beristirahat dan mempersiapkan diri untuk mengikuti tes kemampuan dasar yang diadakan di fakultas sastra. Sebelumnya pihak panitia memilih lokasi tes di fakultas hukum. Ada perasaan kecewa terhadap panitia tes CPNS Kemdikbud di Bali, beberapa informasi lokasi tes tidak jauh hari ditentukan dan minimnya informasi antara panitia dan peserta. Akhirnya, saat yang di tunggu kak sahar pun tiba. Setelah mempersiapkan diri aku ikut menemaninya pergi tes dan menunggu hingga selesai tes. Rasa kecewa terhadap panitia tes semakin besar dengan dipindahkannya lokasi tes yang sangat mendadak. Walaupun jaraknya tidak begitu jauh, tetapi kesalahan kecil seperti ini akan membuat semangat peserta menurun. Walaupun sudah agak lama menunggu di gedung yang semula di jadwalkan, untunglah ketika di pindahkan ke gedung lain kak sahar tidak begitu telat dan masi bisa mengerjakan soalnya. Jam 12 lebih akhirnya tespun selesai dan kami hanya bisa berdoa yang terbaik yang disiapkan Tuhan untuk kak sahar dan aku.

Liburan Setelah Tes
Besok harinya setelah berkemas dari penginapan kami berangkat ke Bedugul yang merupakan tujuan awal tempat wisata yang ingin kami kunjungi. Perjalanan kami tempuh dengan mengendarai motor selama 2 jam lebih. Kami menikmati perjalanan, walaupun cuaca di Bali tidak menentu kadang hujan kadang panas. Entah apa yang di pikirkan kak sahar ketika berangkat ke bedugul dia tidak menggunakan baju lengan panjang ataupun sweeter, sehingga dia hanya memakai baju kaos lengan pendek. Hasilnya dengan cuaca yang sangat panas kulitnya terbakar sinar matahari, parahnya ketika hampir sampai Bedugul tepatya di desa Baturiti hujan lebat turun dan kami kehujanan dan sempat berhenti menunggu hujan reda. Setelah melanjutkan perjalanan, tiba-tiba hujan turun lagi dan akhirnya kami nekat berhujanan sampai penginapan.

Setelah membenahi pakaian yang basah kami mencari makan disekitar danau Beratan. Sepanjang perjalanan menuju rumah makan Taliwang, saya terkesan dengan masyarakat disana karena mayoritas beragama muslim. Konon mereka datang dari Lombok dan mendirikan perkampungan muslim di Bedugul. Tidak hanya masjid, didesa itu terdapat pesantren dan beberapa spanduk yang bertuliskan selamat hari raya haji. Ini sangat menakjubkan sekali karena ditengah pulau yang mayoritas beragama hindu terdapat perkampungan islam yang taat. Dengan kondisi demikin, saya tidak ragu membeli makanan yang banyak terdapat di sepanajang jalan dananu Beratan. Kami memilih rumah makan ayam taliwang yang tepat berada di depan masuk danau. Memang sedikit mahal harga yang patok untuk sepotong ayam betutu yang saya pesan. Tetapi ini tidak menjadi masalah karena laparnya perut dan rasa ayam yang dibumbui kuning itu bisa mengisi tenaga untuk jalan-jalan hari berikutnya.

Pura Ulun Danu Bratan
Pukul 08.00 kami siap-siap berangkat ke danau. Setelah sarapan mi rebus, kami menuju pintu masuk pura. Pura ulun danu baratan sendiri buka 24 jam. Setelah membeli tiket, kami segera masuk dan mencari enggel yang bagus untuk mendapatkan gambar pura. Dengan teriknya panasnya matahari sedikit susah mendapatkan gambar bagus karena cahaya yang tidak stabil. Lingkungan sekitar pura yang sangat luas dan banyak taman-taman yang membuat kita betah berlama-lama di sekitar pura. Untungnya kami datang saat hari raya Galungan, sehingga kami bisa menyaksikan beberapa penduduk asli yang memakai pakaian khas bali yang berdoa disekitar pura. Di jalan pulang, banyak terdapat toko oleh-oleh yang menjual berbagai hasil kerajinan penduduk dan jajanan khas pegunungan seperti kerupuk ubi, kacang rebus, jagung manis dan stroberi sebagai oleh-oleh dari ulun danu.
Setelah puas berfoto-foto di pura ulun danu baratan, kami bersiap-siap kembali ke kuta dan berencana menetap satu malam di kuta. Perjalanan ke kuta sendiri kurang lebih kami tempuh 5 jam. Kami sengaja mengambil jalan lain untuk menuju pasar sukowati untuk membeli oleh-oleh yang terkenal murah. 1 jam lebih kami menghabiskan waktu berkeliling-keliling pasar dan mencari beberapa barang yang menarik. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan selama 11-2 jam ke Kuta dan mencari penginapan sekitar jalan Poopies II. Setelah mendapatkan penginapan, kami menyempatkan melihat sunset Pantai Kuta yang terkenal indah. Karena ini malam terakhir berada di bali, kami berencana jalan-jalan dan mengelilingi lokasi yang dekat dengan penginapan. Tetapi dengan tubuh yang begitu lelah, kami mengurungkan niat dan hanya mencari makan malam.

Hari kepulangan, aku dan kak sahar menyempatkan ke monumen bom Bali yang terletak di jalan Legian dan tidak begitu jauh dari penginapan. Jalanan legian pagi itu sangat sepi yang terlihat hanya penyapu jalan dan beberapa turis local yang berpoto. Sedangkan turis asing masih tertidur pulas karena kehidupan sekitar legian dan kuta selalu ramai dan akan terus ramai bila malam. Setelah sarapan pagi di penginapan, kami langsung berangkat membeli oleh-oleh di jogger dan lanjut  mengembalikan sepeda motor. Perjalanan ke terminal ubung untuk menaiki bus dan kembali ke jogja kami lanjutkan dengan menaiki angkot dengan membayar 10 ribu untuk dua orang. Sebelumnya kak Sahar sudah memesan bus yang sama yaitu wisata komodo. Jam 2 lebih bus berangkat dan sama seperti berangkat ke Bali, fasilitas yang ditawarkan memberi kenyamanan bagi penumpang.
Dalam perjalanan pulang, setelah makan malam di jember dan melanjutkan perjalanan pulang saya teringat kata-kata kak Sahar kalau di sekitar jember ke Purbolinggo ada gardu listrik terbesar di Indonesia yang kalau malam hari akan terlihat seperti yang terdapat di film City of Ember. Akhirnya kami melewati gardu dan berusaha mengambil photo walaupun tidak begitu jelas, tetapi sudah lumayan untuk kami sebagai kenangan. Bangunan gardu sangat terang dan sangat luas. Tidak banyak cerita dalam perjalanan pulang ini karena melewati malam dan tubuh yang lelah, akhirnya sekitar pukul 9 pagi kami sampai di jogja dan turun di janti.

Ada beberapa hal yang menarik yang tidak akan pernah saya lupa selama perjalanan:
  • Saya ingin sekali membeli salak Bali, karena belum musimnya jadi agak jarang yang menjual salak. Sampai akhirnya terbawa mimpi dan karena kasian kak sahar akhirnya bersedia mengantarkan membeli salak di Kuta. Senangnya mendapatkan apa yang diinginkan sampai harga 75.000/kg salak tidak masalah. Agak sedikit kecewa dengan harga yang sangat mahal untuk ukuran salak.
  • Selama di Bali, kami selalu makan di rumah makan padang. Dengan asumsi, rumah makan padang sudah jelas halalnya.
  • Kami selalu menggunakan GPS agar mengetahui arah jalan walaupun kadang kali kami salah jalan.
  • Aku dan kak sahar berharap kami bisa liburan dengan budget yang minim ala backpacker. Tetapi apa yang kami alami tidak seperti yang dibayangkan kami memang backpacker dengan budget besar.
Itulah cerita perjalanan liburan singkat aku dan kak sahar ke Bali, dan mungkin akan ada rencana perjalanan berikutnya yang akan aku ceritakan di postingan berikutnya. J
 
Pura Ulun Danu Beratan
 

Ayam Betutu
 
Danu Beratan
 
Narsis
 
 Pulangnya nyempetin makan duren :D


 

 Monumen bom Bali

 

Minggu, 27 Oktober 2013

Hari Kedua Bersama Keluarga di Bali

sebelumnya postingan liburan ke Bali kemaren, masih ada beberapa daerah yang aku kunjungi tetapi tidak disebutkan di sana. Beberapa daerah itu mungkin sudah sangat sering didengar bahkan di kunjungi oleh teman-teman. Karena hari itu terakhir kami di bali, maka diputuskan untuk mengunjungi objek wisata yang dekat dari bandara dan tidak jauh dari kuta. Maka diputuskanlah pagi itu kami berangkat ke pantai kuta dan menyempatkan berfoto di beberapa ikon pantai kuta. Setelah itu garuda wisnu kencana menjadi tujuan kami selanjutnya.

Objek wisata ini terletak di bukit jimbaran bali. Tidak jauh dari bandara Ngurah rai, hanya sekitar 30 menit naik mobil. Letaknya yang berada di dataran tinggi, menjadikan tempat ini salah satu gardu pandang terbaik di Bali untuk menikmati pemandangan kuta dan pantai sekitar jimbaran. Di lokasi objek wisata ini terdapat tiga lokasi inti yang tidak begitu jauh antara satu dengan lainnya. Memasuki pintu masuk, kita akan disuguhkan oleh lapangan luas dan tebing-tebing yang sepertinya di bentuk untuk menambah daya tarik objek wisata ini. Lokasi kedua yaitu dimana terdapat burung garuda besar yang menoleh kekiri. Sedangkan lokasi ketiga patung wisnu tanpa tangan yang disalah satu sudut area ini dipasang teleskop pantau yang dioperasikan dengan koin. Koinnya sendiri bisa kita dapatkan dengan menukar uang 5000 kepada petugas loket penukaran.

 Banyak cerita yang berkaitan dengan objek wisata ini, salah satunya patung garuda wisnu kencana (GWK) yang merupakan hasil karya salah satu pemahat bali yang terkenal. Entah karena hal apa, beberapa bagian dari patung ini belum sempat terpasang dan masih terletak di beberapa lokasi yang saya sebutkan tadi. Mungkin kalau jadi disatukan, patung ini tentu akan berukuran sangat besar dan tentu lebih menarik. Menurut si penjaga yang saya tanya, penyelesaian patung ini direncanakan sekitar 2016 mendatang.

Setelah berkeliling dan berfoto, tentu kita merasakan dehidrasi yang tinggi. Teman-teman tidak usah khawatir, karena sepanajng jalan keluar banyak terdapat tempat makan yang menyediakan berbagai minuman segar dana makanan.

Perjalanan selanjutnya kami lanjutkan dengan berburu oleh-oleh di kawasan kuta tepatnya pertokoan jogger. Tidak banyak yang saya beli, hanya kaos jogger dan beberapa makanan seperti pia susu dan pia legong khas bali. Ada juga salak khas bali yang bernama salak gula pasir yang menjadi salah satu tentengan belanja mama. Tepat pukul 13.00 kami menuju hotel dan berkemas untuk chek out. Setelah memeriksa perlengkapan dan barang bawaaan, ada salah satu tas penting yang entah dimana tertinggalnya. Tas kamera yang berisi handycam dan perlengkapan lainya mengkhawatirkan kami sekeluarga. Beberapa video yang terdapat di handycam tersebut menjadi kenangan untuk kami yang belum sempat di pindahkan ke computer.

Lama berfikir, tanpa merasakan lapar akhirnya da vika berangkat memakai motor yang di pinjam dari satpam hotel menuju panatai kuta. Untungnya sesampai disana tas berharga tersebut masih di simpan si pemilik warug. Dengan kejadian itu, saya sangat kagum dengan kejujuran masyarakat bali terhadap wisatawan yang berkunjung ke Bali.

 Dengan perasaan lega, kami langsung berangkat kebandara dan berpisah dengan keluarga dalam perjalanan pulang. Keluarga tentu mereka akan balik ke bukittinggi dan saya balik ke jogja untuk menyelesaikan urusan yang tertunda.


Pantai Kuta pukul 08.00 pagi


HR Hotel Kuta

Garuda di kompleks GWK
 

Papa meneroponng melihat hamparan laut dari bukit Jimbaran di GWK
 

Narsiz bersama Wisnu di GWK

Sabtu, 26 Oktober 2013

Bali Part I

Saya membagi cerita ini menjadi dua bagian. Yang pertama cerita liburan kebali bersama keluarga dan yang kedua liburan kebali bersama kak sahar sembari menemani dia tes CPNS di Universitas Udayana. Nah pada bagian ini, saya akan bercerita tentang menariknya liburan bersama keluarga besar.

Sudah lama kami sekeluarga merencanakan liburan bersama ke sebuah tempat yang berada di luar pulau Sumatra. Entah kenapa momen wisuda menjadi ajang pemanfaatan waktu liburan bagi orang tua dan kaka-kakaku untuk mengambil cuti yang agak lama. Benar saja, wisuda ku yang sudah ditetapkan pada hari kamis menjadi sangat menarik bagi keluargaku untuk merencanakan liburan keluar kota sembari menghadiri upacara sakral gelar masterku. Setelah hampir sebulan berdiskusi, kami sekeluarga memutuskan Bali sebagai tempat yang beruntung kami kunjungi. *Sombongnyaaaaa…. J
Tepatnya dua hari setelah acara wisudaku dan setelah puas berkeliling di jogja, kami sekeluarga berangkat menuju bandara adi sucipto Yogyakarta untuk menaiki pesawat yang menerbangkan kami ke bandara Ngurah Rai Bali. Tepat pukul 15.45 pesawat terbang menuju pulau dewata. Dengan perbedaan waktu lebih cepat satu jam, kami tiba di bali sudah gelap dan tercium aroma khas Bali sambil menunggu datangnya bagasi.
Keluar dari bandara kami langsung disambut oleh driver hotel Ibis kuta yang sebelumnya sudah di pesan oleh teman kakaku saya yang berada di bali. Jadi tanpa susah payah, kami langsung di bawa ke tempat beristirahat yang tidak begitu jauh dari bandara. Penawaran harga dan fasilitas kamar serta sarapan yang ditawarkan hotel sebanding dengan harga yang dipatok si menejer. Dengan harga yang lumayan mahal, dan kenyamanan yang ditawarkan tetap saja aku bermasalah dengan tidur. Entah apa masalahnya setiap tempat baru yang aku kunjungi mata dan pencernanku menjadi tidak normal dan membutuhkan penyesuain, sehingga malam itu saya hanya tidur satu jam, dan menunggu pagi yang sangat lama.
Akhirnyaaaa, setelah sarapan dengan menu yang serba ada, perjalananpun dimulai dengan mengunjungi pusat oleh-oleh kerajinan batik Sari Amerta sambil menunggu dimulainya pertunjukan barong dan keris di Jambe budaya daerah Batubulan. Di galeri ini, kita bias menjumpai berbagai hasil kerajinan bali mulai dari batik bali, kain khas bali, tenunan bali, dan lukisan-lukisan dari seniman bali. Disini, kita juga bias melihat proses pembatikan kain batik bali yang tidak jauh berbeda dengan cara membatik pada umumnya.

Waktu pertunjukan barong dan kerispun dimulai. Disini para turis disajikan kesenian bali yang diawali dengan tari pendet dan cerita tentang barong dan keris yang terdiri dari beberapa bagian. Barong dan keris sendiri merupakan cerita yang menggambarkan tentang kebajikan dan kebatilan. Barong adalah wujud kebajikan sedangkan kebatilan berwujud Rangda. Singkat cerita dari drama ini, barong mempunyai kesaktian berupa kekebalan yang tidak bisa dilawan oleh rangda. Berbagai usaha yang dilakukan rangda termasuk memberi kekebalan kepada pengikutnya menjadikan pertarungan antara barong dan rangda tidak pernah berakhir. Sedangkan keris adalah senjata yang digunakan pengikut rangda untuk membunuh barong. Tetapi tetap saja tidak berhasil. Satu hal yang menarik dalam pertunjukan ini adalah hadirnya seorang juru kunci diatas panggung sambil membakar dupa dan sesajen yang berjalan mengitari panggung. Konon katanya saat si penari memegang keris mereka dirasuki oleh parah roh nenek moyang yang memberikan kekebalan. Pertunjukan ini sama halnya seperti debus yang memperlihatkan kekebalan. Dalam sebuh pertunjukan juga sering terjadi kesurupan pemain yang bertingkah aneh. Dan apabila hal ini terjadi, si juru kunci berperan penting untuk menyadarkan si pemain. Sebuah pertunjukan yang menarik yang sebaiknya dikunjungi ketika berada di bali. Terakhir sebagai kenangan, para turis diijinkan berphoto dengan si barong dan penari bali yang ada di lingkungan teater.
Berangkat dari batubulan, kami langsung ke Tanjung Benoa untuk menikmati water sport yang merupakan ciri khas objek wisata ini. Berbagai permainan air tersedia disini. Tetapi sangat disayangkan tariff yang dikenakan disetiap permainan sangat mahal untuk turis lokal atau para back paker. Bersama saudara laki-laki saya, kami memilih paraseling untuk menantang adrenalin terbang menggunakan parasut yang ditarik oleh speedboat sebanyak satu kali putaran selama 15 menit. Rasa deg-degan tentu menghujani kami, tapi karena besarnya rasa penasaran, akhirnya secara bergantian kami terbang. Waaaahhhhh kata-kata yang pertama muncul ketika berada di atas permukaan laut bening dengan hamparan terumbu karang di bawahnya. Terlihat pemandangan bawah laut dari atas paraseling menandakan bersihnya air laut tanjung benoa dari pencemaran. Hal yang sepatutnya di tiru oleh beberapa daerah yang terdapat di pesisir Indonesia untuk menjaga kebersihan laut, sehingga ekosistim laut terus berlangsung.
Setelah puas terbang dengan paraseling, kami melanjutkan perjalanan kepulau penyu. Untuk mengunjungi pulau ini, dikenakan biaya 100 ribu perorang. Biaya tersebut bisa saja mahal karena kita harus menaiki perahu yang telah berjejer di pinggiran pantai. Biaya akan terasa lebih murah apabila semakin banyak turis dalam perahu asalkan tidak melebihi kapasitas siperahu sendiri. Menaiki perahu kita mendapat roti sebagai umpan agar ikan-ikan mendekat keperahu dan kita bias menikmati berbagai jenis ikan karang yang bermain sambil menyantap roti yang kita kasih. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan ke pulau penyu sebagai tujuan utama. Memasuki pulau ini, saya sedikit kecewa karena tidak seperti yang saya bayangkan. Lokasi ini lebih terlihat seperti pusat penangkaran penyu yang hanya terdapat beberapa penyu. Walaupun begitu, kami tidak melewatkan kesempatan untuk mengabadikan sipenyu-penyu untuk berpose bersama. Selain penyu terdapat juga berbagai hewan khas bali seperti elang bali, iguana, ular, kalong yang sudah di jinakan dan bisa ikut berphoto.
Setengah hari perjalanan kami merasakan lapar dan memutuskan untuk mencari rumah makan yang halal. Sekarang ini, tidak susah untuk mencari makanan halal di bali, karena sudah banyak tersedia makanan padang dan berlabel halal. Sehingga kita tidak ragu untuk mengisi perut penyedia energy ke lokasi berikutnya.
Tanah lot adalah tempat terakhir yang kami kunjungi pada hari itu. Kata orang, tidak afdol rasanya kalo ke Bali tidak mengunjungi tanah lot. Saya tidak akan banyak bercerita tentang tanah lot ini, karena pasti banyak diantara kita yang sudah pernah ke sini atau hanya mengetahui dari orang-orang yang sudah pernah berkunjung, bahkan dengan adanya internet banyak para blogger lainnya yang membuat cerita tentang tanah lot.
Keeksotisan pulau dewata ini, menjadi daya tarik banyak orang untuk berlibur dan menikmati nuansa budaya khas bali. Tidak salah, banyak para pecinta photografi menjadikan Bali sebagai objek photo mereka.


uni Launa dengan Pembatik bali di Sari Amerta

Photo bersama Barong dan penari bali

Si juru kunci sedang berdoa dalam pertarungan barong dan keris

Siap-siap terbang


Meendarat


Minggu, 20 Oktober 2013

Festival Layang-layang Glagah Part II


Melanjutkan kekecewaan akhir pekan di festival layang-layang Glagah sebelumnya, kami mempersiapkan bekal untuk minggu terakhir liburan kami. Memanfaatkan hari libur terbiasa aku dan kak sahar lakukan walaupun hanya mencicipi makanan khas dan uni atau yang belum pernah kami coba. Nah akhir minggu ini adalah hari terakhir diadakanya festival layang-layang di Galagah.
Jarak pantai glagah dari pusat kota jogja yang lumayan jauh, kami putuskan untuk berangkat lebih siang. Perjalanan ini berbeda dari yang sebelumnya, baim salah satu teman kak sahar yang berlibur ke jogja ingin ikut bersama kami menikmati keindahan pantai glagah dan festival layang-layang. Hamper 2 jam kami menunggu, baim tapi tak kunjung datang, akhirnya dengan berbagai percakapan antara baim dan kak sahar kami putuskan untuk berangkat duluan dan baim menyusul dengan motor hitamnya.
Sesampainya kami di glagah ternyata festival sudah selesai, hanya beberapa layangan yang di terbangkan. Bermacam layang-layang sebenarnya kita bisa temui disini. Karena kedatangan kami yang terlambat apa boleh buat, kami hanya menikmati beberapa layang-layang yang melenggak lenggok bagai penari jaipong.
Beberapa menit kami sampai, baim pun datang dan langsung narsis dengan kamera handphonenya. Tidak lupa juga dia langsung update di beberapa acount jejaring social yang dia miliki. Lucu memeng tingkah anak ini, sikap dan tingkah lakjunya mencairkan suasana dan menambah senyum bahkan tertawa buat aku dan kak sahar.
Walaupun sudah agak sore tetapi masih ada beberapa layangan yang diterbangkan oleh pemiliknya sebagai bentuk hobi dan pengenalan layang-layang yang dia miliki. Dari beberapa layang-layang yang tersisa, ada sebuah layang-layang yang menarik langkahku untuk mengetahui dan mengabadikan sosok kokohnya yang terlihat rapuh itu. Saya lupa apa namaya, yang pasti layangan ini berasal dari Sulawesi Tenggara dan merupakan layang-layang tradisional yang dulu sempat popular. Layangan ini terbuat dari daun kering yang di jahit untuk menggabungkannya. Benang untuk menerbangkannyapun terbuat dari pintalan serat batang pohon yang sudah di keringkan.

Selain kami, ada seorang bapak yang tertarik akan layang-layang unik ini. Untungnya si pemilik layang-layang tidak pelit memberikan informasi bahkan dia bersedia menerbangkan layang-layangnya. Sangat menakjubkan, layang-layang yang terlihat rapuh itu bisa terbang dan sejajar dengan layangan lainnya. Menikmati keindahan dan suara yang dikeluarkan dari pita yang di pasang di layang-layang menjadi daya tarik sendiri bagi kami yang sudah termakan arus modernisasi. Maksud saya tentang modernisasi disini adalah, sebagain diantara kita tentu hanya mengetahui bahan pembuat layang-layang dari bamboo, kertas, kain, dan parasut. Tetapi dengan adanya festival ini kami dapat mengetahui bahwa layang-layang sudah ada sebelum manusia mengenal kertas dan parasut.
Setelah puas mengambil photo dan menikmati layang-layang, kami melanjutkan untuk menjelajahi tepi pantai Glagah yang berpasir hitam. Walaupun hanya turis local yang kelihatan, ini membuktikan bahwa masih banyak tempat-tempat indah yang belum diketahui orang. Kami berjalan disepanjang pesisir pantai sambil mencari engel yang bagus untuk mengambil gambar. Sebagai penikmat keindahan alam, saya tidak pernah bosan untuk mengabadikan si merah bundar yang akan tenggelam.

Beberapa catatan penting:

  • Apabila sudah merencanakan suatu perjalanan, jangan biasakan menunda keberangkatan.
  • Kalau mau menonton festival layang-layang datanglah dari pagi.
  • Ingat, masih banyak keindahan alam yang tersembunyi dan patut kita banggakan dari bumi nusantara ini.
 
 
 
 
Layang-layang yang tersisa
 
Baim dengan kenarsisanya
 
Layang-layang khas Sulawesi Tenggara yang terbuat dari daun kering
 
Hasil jepretan Baim
 
Sahar shoot
 
It's me
 
Si merah yang sembunyi
 
Sandaljpit
 
Baim narsis