Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 November 2014

Cinta.....

"Jangan cintai aku apa adanya jangan..."

Mengutip lirik lagu Tulus sepertinya memang benar kalau mencintai pasti ada apanya. entah sesuatu, atau lain hal yang entah apalah alsannya. Bagaimanapun juga tetap saja cinta, cinta yang tidak tau apa arti sebenarnya yang entah bagaimana rasanya, mungkin gado-gado, nano-nano atau pelangi.
Seperti yang saya rasakan, cinta membuat kita dipersatukan dalam sebuah ikatan pernikahan. 31 Januari 2014, jam 10 pagi kita resmi menjadi pasangan suami istri.
                                                                I Love You Suamiku

Sore hari kontrakan putih

Selasa, 19 November 2013

Infinite

entah setan apa yang melintasi kami berdua sehingga terjadi perdebatan yang sebenarnya tidak penting ini. Tuhan mungkin telalu sayang kepada kami sehingga cobaan selalu diberikan dalam keseriusan niat baik kami. Malam ini akan terasa panjang bagiku, dan mata ini akan semakin semabab seiring lelah dan banyaknya airmata yang telah keluar. bahkan sampai aku menulis ini, tetesannya membasahi notebook kesayanganku.

apa kamu juga merasakan apa yang aku rasakan?
atau kamu sudah terhanyut dalam mimpi indahmu?
apakah kamu mengkhawatirkan apabila terjadi sesuatu dengan aku?
apakah kamu akan menangis kalau aku bilang saat ini aku terluka dan meratapi hubungan kita?

masih sangat jelas kata-kata puisi yang kamu tulis di blog kita.
dan masi sngat jelas kata-kata balasan dari aku atas puisimu.
bisa dihitung detik hal yang sudah manis berubah menjadi pahit.

perenungan akan keseriusan niat menjaga dan dijaga.
mencintai dan dicintai.
dan saling melengkapi.

=lewat tengah malam=
di kesunyian Malam

Sabtu, 26 Oktober 2013

Bali Part I

Saya membagi cerita ini menjadi dua bagian. Yang pertama cerita liburan kebali bersama keluarga dan yang kedua liburan kebali bersama kak sahar sembari menemani dia tes CPNS di Universitas Udayana. Nah pada bagian ini, saya akan bercerita tentang menariknya liburan bersama keluarga besar.

Sudah lama kami sekeluarga merencanakan liburan bersama ke sebuah tempat yang berada di luar pulau Sumatra. Entah kenapa momen wisuda menjadi ajang pemanfaatan waktu liburan bagi orang tua dan kaka-kakaku untuk mengambil cuti yang agak lama. Benar saja, wisuda ku yang sudah ditetapkan pada hari kamis menjadi sangat menarik bagi keluargaku untuk merencanakan liburan keluar kota sembari menghadiri upacara sakral gelar masterku. Setelah hampir sebulan berdiskusi, kami sekeluarga memutuskan Bali sebagai tempat yang beruntung kami kunjungi. *Sombongnyaaaaa…. J
Tepatnya dua hari setelah acara wisudaku dan setelah puas berkeliling di jogja, kami sekeluarga berangkat menuju bandara adi sucipto Yogyakarta untuk menaiki pesawat yang menerbangkan kami ke bandara Ngurah Rai Bali. Tepat pukul 15.45 pesawat terbang menuju pulau dewata. Dengan perbedaan waktu lebih cepat satu jam, kami tiba di bali sudah gelap dan tercium aroma khas Bali sambil menunggu datangnya bagasi.
Keluar dari bandara kami langsung disambut oleh driver hotel Ibis kuta yang sebelumnya sudah di pesan oleh teman kakaku saya yang berada di bali. Jadi tanpa susah payah, kami langsung di bawa ke tempat beristirahat yang tidak begitu jauh dari bandara. Penawaran harga dan fasilitas kamar serta sarapan yang ditawarkan hotel sebanding dengan harga yang dipatok si menejer. Dengan harga yang lumayan mahal, dan kenyamanan yang ditawarkan tetap saja aku bermasalah dengan tidur. Entah apa masalahnya setiap tempat baru yang aku kunjungi mata dan pencernanku menjadi tidak normal dan membutuhkan penyesuain, sehingga malam itu saya hanya tidur satu jam, dan menunggu pagi yang sangat lama.
Akhirnyaaaa, setelah sarapan dengan menu yang serba ada, perjalananpun dimulai dengan mengunjungi pusat oleh-oleh kerajinan batik Sari Amerta sambil menunggu dimulainya pertunjukan barong dan keris di Jambe budaya daerah Batubulan. Di galeri ini, kita bias menjumpai berbagai hasil kerajinan bali mulai dari batik bali, kain khas bali, tenunan bali, dan lukisan-lukisan dari seniman bali. Disini, kita juga bias melihat proses pembatikan kain batik bali yang tidak jauh berbeda dengan cara membatik pada umumnya.

Waktu pertunjukan barong dan kerispun dimulai. Disini para turis disajikan kesenian bali yang diawali dengan tari pendet dan cerita tentang barong dan keris yang terdiri dari beberapa bagian. Barong dan keris sendiri merupakan cerita yang menggambarkan tentang kebajikan dan kebatilan. Barong adalah wujud kebajikan sedangkan kebatilan berwujud Rangda. Singkat cerita dari drama ini, barong mempunyai kesaktian berupa kekebalan yang tidak bisa dilawan oleh rangda. Berbagai usaha yang dilakukan rangda termasuk memberi kekebalan kepada pengikutnya menjadikan pertarungan antara barong dan rangda tidak pernah berakhir. Sedangkan keris adalah senjata yang digunakan pengikut rangda untuk membunuh barong. Tetapi tetap saja tidak berhasil. Satu hal yang menarik dalam pertunjukan ini adalah hadirnya seorang juru kunci diatas panggung sambil membakar dupa dan sesajen yang berjalan mengitari panggung. Konon katanya saat si penari memegang keris mereka dirasuki oleh parah roh nenek moyang yang memberikan kekebalan. Pertunjukan ini sama halnya seperti debus yang memperlihatkan kekebalan. Dalam sebuh pertunjukan juga sering terjadi kesurupan pemain yang bertingkah aneh. Dan apabila hal ini terjadi, si juru kunci berperan penting untuk menyadarkan si pemain. Sebuah pertunjukan yang menarik yang sebaiknya dikunjungi ketika berada di bali. Terakhir sebagai kenangan, para turis diijinkan berphoto dengan si barong dan penari bali yang ada di lingkungan teater.
Berangkat dari batubulan, kami langsung ke Tanjung Benoa untuk menikmati water sport yang merupakan ciri khas objek wisata ini. Berbagai permainan air tersedia disini. Tetapi sangat disayangkan tariff yang dikenakan disetiap permainan sangat mahal untuk turis lokal atau para back paker. Bersama saudara laki-laki saya, kami memilih paraseling untuk menantang adrenalin terbang menggunakan parasut yang ditarik oleh speedboat sebanyak satu kali putaran selama 15 menit. Rasa deg-degan tentu menghujani kami, tapi karena besarnya rasa penasaran, akhirnya secara bergantian kami terbang. Waaaahhhhh kata-kata yang pertama muncul ketika berada di atas permukaan laut bening dengan hamparan terumbu karang di bawahnya. Terlihat pemandangan bawah laut dari atas paraseling menandakan bersihnya air laut tanjung benoa dari pencemaran. Hal yang sepatutnya di tiru oleh beberapa daerah yang terdapat di pesisir Indonesia untuk menjaga kebersihan laut, sehingga ekosistim laut terus berlangsung.
Setelah puas terbang dengan paraseling, kami melanjutkan perjalanan kepulau penyu. Untuk mengunjungi pulau ini, dikenakan biaya 100 ribu perorang. Biaya tersebut bisa saja mahal karena kita harus menaiki perahu yang telah berjejer di pinggiran pantai. Biaya akan terasa lebih murah apabila semakin banyak turis dalam perahu asalkan tidak melebihi kapasitas siperahu sendiri. Menaiki perahu kita mendapat roti sebagai umpan agar ikan-ikan mendekat keperahu dan kita bias menikmati berbagai jenis ikan karang yang bermain sambil menyantap roti yang kita kasih. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan ke pulau penyu sebagai tujuan utama. Memasuki pulau ini, saya sedikit kecewa karena tidak seperti yang saya bayangkan. Lokasi ini lebih terlihat seperti pusat penangkaran penyu yang hanya terdapat beberapa penyu. Walaupun begitu, kami tidak melewatkan kesempatan untuk mengabadikan sipenyu-penyu untuk berpose bersama. Selain penyu terdapat juga berbagai hewan khas bali seperti elang bali, iguana, ular, kalong yang sudah di jinakan dan bisa ikut berphoto.
Setengah hari perjalanan kami merasakan lapar dan memutuskan untuk mencari rumah makan yang halal. Sekarang ini, tidak susah untuk mencari makanan halal di bali, karena sudah banyak tersedia makanan padang dan berlabel halal. Sehingga kita tidak ragu untuk mengisi perut penyedia energy ke lokasi berikutnya.
Tanah lot adalah tempat terakhir yang kami kunjungi pada hari itu. Kata orang, tidak afdol rasanya kalo ke Bali tidak mengunjungi tanah lot. Saya tidak akan banyak bercerita tentang tanah lot ini, karena pasti banyak diantara kita yang sudah pernah ke sini atau hanya mengetahui dari orang-orang yang sudah pernah berkunjung, bahkan dengan adanya internet banyak para blogger lainnya yang membuat cerita tentang tanah lot.
Keeksotisan pulau dewata ini, menjadi daya tarik banyak orang untuk berlibur dan menikmati nuansa budaya khas bali. Tidak salah, banyak para pecinta photografi menjadikan Bali sebagai objek photo mereka.


uni Launa dengan Pembatik bali di Sari Amerta

Photo bersama Barong dan penari bali

Si juru kunci sedang berdoa dalam pertarungan barong dan keris

Siap-siap terbang


Meendarat


Sabtu, 19 Oktober 2013

Festival Layang-layang di pantai Galagah Part I


Kuambil buluh sebatang
Kupotong sama panjang
Kuraut dan ku timbang dengan benang
Kujadikan layang-layang
      Bermain..
      Berlari..
Bermain layang-layang
Bermain kubawa ketengah lapang
Hati gembira dan riang

Lagu masa kecil diatas mengingatkanku pada festival layang-layang yang diadakan di pantai Glagah pada tanggal 19 Oktober 2013 kemaren. Mendapat informasi disalah satu social media aku dan kak sahar merencanakan untuk melihat festival itu. Kesenangan kita akan jalan-jalan dan bersenang-senang, menjadikan festival ini pilihan liburan akhir pekan yang sungguh menarik. Setelah merencanakan dengan matang, kami bersiap-siap berangkat. Sore itu langit kelihatan mendung, dan berharap tidak akan hujan. Tidak lucu kalau niat menonton layang-layang yang menari menjadi terhalang oleh hujan. Sekitar pukul 4.00 sore, berangkat lah kita ke pantai glagah. Bermodal pengetahuan yang secukupnya dan petunjuk jalan serta menyempatkan “say hi” ke orang di tepi jalan dengan maksud bertanya, kak sahar menggas motornya dengan cepat menuju ke glagah. Cepat menurut kami belum tentu cepat menurut orang lain, biasanya kak sahar memacu motornya antara 40-60 km/jam itu sudah cepat menurutku. Maklum, aku sempat trouma naik motor karena dulu pernah terjatuh saat mengendarai motor.

Sekitar jam 16.30 kita sampai di pantai glagah, tentereeeeng hanya tinggal 3-4 layang-layang yang menari-nari di langit bibir pantai. Kecewaa sekali mendapati hal yang tidak seperti kita harapkan. Hehehhe *lebay mode on. Tapi aku masi tetap bersyukur bisa datang kepantai ini. Sore itu cuaca sangat bagus dan pemandangan pantai glagah sangat cocok dijadikan objek photografi. Sunset sore itu terlihat tersenyum menyambut kedatangan kami. Bentuk pantai glagah sendiri berupa teluk dan laguna dan banyak terdapat perahu-perahu wisata yang biasa digunakan untuk mengelilingi pantai sambil menikmati keindahan pantai glagah. Rasa kecewa kami bisa terobati dengan menikmati air kelapa muda yang dipesan kak sahar. Suasana romantic menghantui kami sehingga tidak akan lupa mengabadikan keindahan sore itu walaupun hanya memakai kamera hp 5 megapixel. Sedikit narsis, dengan hasil photo yang kita dapatkan hasilnya sangat bagus, apalagi kalau kita menggunakan kamera SLR yang tentu hasil jepretannya akan lebih jernih. Teman-teman yang hobi photografi dan di photo saya sarankan pantai glagah ini menjadi objek huntingan kalian. Dengan perasaan senang kami melanjutkan perjalanan pulang dan merencanakan kembali besoknya untuk melanjutkan niat melihat layang-layang.
 

 

Senin, 23 September 2013

Ujian Cinta di Pare


 “Tanggal 22 hari apa?"

“Minggu, kenapa kak? Tanyaku”.

Kamu jadi ke pare?”

“Iya jadi.”

Aku anter kamu kesana.”

Tentereeeeeng… asyiiikkkk…. J bahagia yang tak tertahan. ..

Akhirnya setelah memesan travel rute Jogja – Pare, aku dan sang kekasih berangkat jam 7 malam. Dan berharap kita akan sampai di tujuan pada pagi hari. Berkeliling di kampung inggris ini seperti mendapatkan surga baru bagiku, yang bosan akan rutinitas yang gak jelas di Jogja. Belajar sambil refreshing alternative liburan terdahsyat bagiku di akhir-akhir tahun ini. Sudah lama aku ingin ke kota ini dan merasakan aroma inggris khas jawa.

Kak sahar sebagai alumni dari kampung ini menjadi pemandu untuk mencari-cari tempat kursus. Entah berapa kilometer kita berkeliling-keliling sampai akhirnya kakiku pegal dan ingin membaringkan badan.
Pembicaraan panjang dan sebuah perdebatan selalu mewarnai topik bahasan kami. Kukuh dengan pendapat masing-masing sampai akhirnya rasa kesal dalam hati tidak mengurangi rasa sayang dan keinginan untuk memeluk dan mencium. Ini yang aku suka dari dia, tidak pernah marah, kesal, benci dengan omonganku dan keras kepalanya aku. Sejujurnya, aku tidak pernah cemburu buta dan aku sangat percaya dengan apa yang dia katakan. Perasaanku selalu tenang bersama dia.

Setelah seharian melewati waktu bersama, akhirnya saat berpisahpun datang, sedih rasanya mengingat aku sendiri di kota asing ini dan dia pergi meninggalkan aku untuk tugas yang lebih penting.

Aku akan jemput kamu 2 minggu lagi. Biarkan doa-doa kita yang memeluk kerinduan kita”.

hari kedua sampai ke ketujuh

Aku memberikan judul ini karena rencana yang semula sampai hari ke empat belas malah tertunda tujuh hari di pare. Panggilan tes mendadak ke Jakarta memaksa aku untuk cepat berkemas dan mempersiapkan diri untuk menghadapi tes kemampuan dasar oleh lembaga penyedia barang dan jasa. Sebagai pengangguran tingkat tinggi, aku benar-benar mengharapkan sebuah pekerjaan yang sesuai dengan keinginan dan keahlianku. Perasaan senang bercampur sedih melanda hari terakhirku belajar di salah satu lembaga kursus di kampung bahasa inggris. Berteman dengan brondong yang usianya jauh kebih muda membawa aku sedikit merasa menjadi ABG "alias anak baru gede" lagi. Maklum saat ini usiaku sudah cukup dewasa untuk memikirkan nasib hidupku kedepan di banding mereka yang baru melepas celana abu-abu.
Selama belajar di lembaga kursus yang aku pilih ini, aku mendapat banyak ilmu yang semula tidak aku mengerti dengan bahasa inggris. Walaupun waktu seminggu sangatlah singkat, tapi ada beberapa tutor yang berbaik hati memberikan kursus tambahan mengingat singkatnya waktu yang aku miliki. Dan benar saja, sedikit perubahan dari cara membaca bahasa burung yang rumit ini menjadi jelas untuk aku pahami. Memang benar kata kak sahar, “ kamu hanya butuh membaca dan mengulang apa yang sudah pernah diajarkan kepadamu”

Hari terakhirpun datang,

Aku sudah di pare, aku temui kamu nanti

Antara senang dan kesal, kenapa tidak ada kabar sebelumnya..

Hal semacam ini juga bikin kita marah dan mungkin ini hal yang sepele untuk memisahkan kami.

Tapi untung, dengan kesabaranku yang tersisa dan kesabaran kak sahar yang kuat, kami baikan lagi J

Sungguh laki-laki idaman, mengantar dan menjemputku sebagai bentuk sayang dan wujud janjinya kepadaku.

Mungkin kalau aku ceritakan semua, kalian pasti akan iri dengan kisahku, jadi aku putuskan stop dan menyambungnya untuk cerita berikutnya.

Sabtu, 31 Agustus 2013

30 Agustus 2013

“kamu sudah makan?”

“belum, ni mau beli makan.”
“oh, ya sudah jangan sampe petang"
“iya” dengan nada yang sinis” hehehe
30 menit kemudian, “aku depan kosmu, kamu keluar sebentar”
“Ngapain? Ngajakin aku makan bareng ya?”
“Iya”
Bentar aku siap-siap dulu.
Dengan perasaan senang yang tak terduga, aku melihat depan gerbang diatas motor berdiri seorang yang begitu special dan mengatakan “selamat kamu akhirnya jadi wisuda”.
“grrrrrrr,” dalam hati begitu sakiit ucapan yang diharapkan berbeda ternyata dengan yang aku dengar.
Sambil memberikan sebuah bingkisan yang aku sudah tau pasti isinya apa. Dan setelah itu kita berangkat pergi makan malam nasi goreng faforit kita, tempat makan malam pertama kamu memberi sebuah kehangatan setelah hujan-hujanan.
Beberapa lama aku menunggu kamu untuk mengucapkan “selamat ulang tahun” tapi tak kunjung juga terucap. Entah ingin membuat aku kesal, atau benar-benar lupa hari ulang tahunku. Sedikit kekecewaan tanpa bisa menahan lagi aku mengatakan “kak, ini hari specialku”
“iya, aku tahu, hari specialmu akhirnya bisa daftar wisuda J
“Grrrrrrr” nyeseeekkk… “aku ulang tahun lo kak sekarang”
“selamat ulag tahun kalau begitu”
“hiks hiks hiks… untung karena kita bisa bertemu dan makan malam bersama dan ucapan selamat wisudamu aja aku ga marah. Tapi apa benar kamu lupa?
Aku terus betanya-tanya sampai akhirnya kita pulang dan dia memberikan sebuah bingkisan tadi dan aku berlalu masuk kamar.
Tentu, sesampai di kamar buru-buru aku buka bingkisannya, sebuah novel klasik Leo Tolstoy “Anna Karenina” dan selembar kertas berisikan pesan.

“ Aku tidak akan berhenti untuk terus memberimu buku. Semakin hari aku merasa lelah tak berdaya. Mungkin menyadari kalau dunia ini semakin angkuh dan terlalu luas untuk aku takhlukkan. Sementara kita bermimpi menjangkaunya seluas-luasnya, entah kapan terwujudnya. Bukankah kamu ingin mengenaliku dan duniaku? Akan aku kenalkan kamu dengan mereka yang mengajariku bermimpi besar. Mungkin juga mereka tidak pernah benar-benar mewujudkan mimpinya. Tapi mereka kukuh disana, aku ingin seperti mereka. aku Percaya bahwa kita behutang sesuatu pada dunia lebih besar dari yang kita ambil. Karya akan membawa kita untuk lekas membayarnya. “


Di balik kertas bertuliskan “Selamat untuk doa-doa kamu yang terkabulkan… Dunia menantikanmu!!!”
Sesaat aku benar-benar yakin kalau kamu melupakan ulang tahunku. Sedih, walaupun kata-kata yang kamu tulis mengatakan apa yang sebenarnya ingin kamu ungkapkan, tapi ada sebuah kesedihan yang mendalam. Dilain sisi ada kebahagian yang tak terhingga. Aku membuka novel yang kamu kasih halaman pertama bertuliskan “to shylvia windary, in a special Friday, S.Idris”
Sebuah senyum kegembiraan menutup hari yang begitu special buatku.
 Terimakasih untuk semua, aku menyayangi kamu.